Jejak "Venture Capital" di Tepian Bengawan, Investasi Emas dan Pola Bagi Hasil Jipang Abad ke-16

perdagangan sungai dari Jipang menuju Selat Muria abad ke-16, disertai ilustrasi koin emas Majapahit sebagai simbol modal investasi

CEPU – Jauh sebelum sistem perbankan modern dan bursa saham menyentuh tanah Jawa, wilayah yang kini kita kenal sebagai Cepu Raya (mencakup Sambong, Cepu, Kedungtuban, Kradenan, Randublatung, dan Jati) telah menjadi laboratorium ekonomi yang canggih. Di bawah naungan Kadipaten Jipang pada awal tahun 1500-an, sebuah sistem investasi berbasis emas dan kepercayaan telah menggerakkan roda perdagangan lintas samudera.

Srikandi Ekonomi di Jantung Jipang

Tokoh sentral di balik kemapanan ekonomi ini adalah Dyah Ratu Ayu Retno Kumolo. Sebagai putri dari Sang Purnabawa (Brawijaya) sekaligus nenek dari tokoh legendaris Arya Penangsang, ia mewarisi kecerdasan administratif Majapahit. Di bawah kepemimpinannya, Jipang bukan sekadar wilayah agraris, melainkan pusat perputaran modal.

Ratu Retno Kumolo memahami bahwa kekayaan alam Jipang—terutama kayu jati kualitas utama dan hasil bumi—membutuhkan "bensin" berupa modal untuk sampai ke pasar global. Emas-emas kerajaan tidak hanya disimpan di dalam peti, tetapi diinvestasikan kepada para pengusaha lokal dan pedagang sungai.

Sistem "Sakap" Manajemen Risiko ala Leluhur

Inilah letak kecanggihannya. Mas Heri, putra daerah Cepu Raya, mengingatkan kita pada istilah-istilah bagi hasil yang sangat presisi yang digunakan saat itu:

  • Maro (1/2) Digunakan untuk kerja sama dengan tingkat risiko seimbang.

  • Nelon (1/3) & Mrapat (1/4) Pembagian yang disesuaikan dengan kontribusi modal vs tenaga kerja.

  • Proliman (1/5) hingga Prowolu (1/8) Menunjukkan adanya stratifikasi investasi, di mana pemodal (pejabat/Ratu) memberikan dukungan besar sementara pengelola menanggung risiko operasional yang lebih kecil, atau sebaliknya.

Pola ini membuktikan bahwa masyarakat Jipang saat itu sudah mengenal manajemen risiko (risk management). Jika sebuah ekspedisi dagang kayu melalui Bengawan Solo karam, kerugian dibagi sesuai porsi yang disepakati, menjaga stabilitas ekonomi wilayah.

Geopolitik dan Hilangnya Selat Muria

Secara geografis, kejayaan ekonomi Jipang saat itu didukung oleh kondisi alam yang jauh berbeda dengan masa kini. Pada abad ke-16, Selat Muria masih membentang luas, memisahkan Gunung Muria dari daratan utama Jawa.

Kapal-kapal dagang dari mancanegara (Tiongkok, Arab, dan Gujarat) tidak perlu memutar jauh. Mereka masuk melalui Selat Muria dan bersandar di pelabuhan-pelabuhan seperti Juwana dan Rembang. Di titik-titik inilah, komoditas dari Cepu Raya yang dihanyutkan melalui Bengawan Solo bertemu dengan emas dunia.

"Saat itu sedimentasi belum separah sekarang," ungkap pengamat sejarah. Bengawan Solo adalah jalan tol air yang dalam dan lebar, memungkinkan arus barang dari wilayah pedalaman seperti Kedungtuban dan Sambong mengalir deras menuju pesisir.

Warisan Etos Kerja Cepu Raya

Pendangkalan Selat Muria yang disebabkan oleh aktivitas geologis selama ratusan tahun mungkin telah mengubah peta geografi, namun etos kerja "investor" di Cepu Raya tidak hilang. Hubungan antara penguasa emas (pejabat/bangsawan) dan pengusaha (pedagang) di era Dyah Ratu Ayu Retno Kumolo adalah bukti otentik bahwa masyarakat kita telah mengenal ekonomi inklusif sejak lama.

Kini, saat kita melintasi hutan jati di Randublatung atau melihat aliran Bengawan di Cepu, kita sebenarnya sedang berdiri di atas tanah yang dulunya adalah pusat transaksi modal internasional. Sebuah kebanggaan bagi warga Cepu Raya bahwa akar literasi keuangan mereka telah tertanam kuat sejak zaman Jipang.