Dari Kampus Pelosok, Wawasan Ideal Revolusi Senyap Mahasiswa Tarbiyah
Selama puluhan tahun, Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering kali terjebak dalam stigma seremonial, pembuatan plang jalan, pengecatan gapura, atau sekadar perlombaan tujuh belasan. Namun, di bawah langit Cepu Raya—meliputi Sambong, Cepu, Kedungtuban, Kradenan, Randublatung, hingga Jati—sebuah gerakan berbeda sedang berdenyut. Mahasiswa S1 Tarbiyah dari Institut Agama Islam (IAI) hadir membawa misi yang lebih fundamental, sebuah Revolusi Senyap.
Menara Gading yang Meruntuhkan Diri
Revolusi ini tidak dimulai dengan
teriakan di jalanan, melainkan dengan kerendahan hati untuk turun dari
"menara gading" akademis. Mahasiswa Tarbiyah datang bukan sebagai
pengganti guru, melainkan sebagai katalisator. Wawasan ideal yang mereka bawa
adalah sinergi antara teori pedagogi modern dengan nafas religiusitas yang
menjadi akar masyarakat Blora selatan.
Di meja-meja kayu madrasah diniyah
di Kradenan, mereka tidak lagi hanya mengajarkan hafalan, tetapi mulai
memperkenalkan metode Active Learning. Inilah implementasi nyata dari
mata kuliah Psikologi Pendidikan. Mereka memahami bahwa anak-anak di pelosok
desa memiliki potensi kognitif yang sama besarnya dengan anak kota, hanya saja
mereka selama ini kekurangan stimulasi metode pembelajaran yang variatif.
Menyentuh Urat Nadi Pendidikan Desa
Di wilayah Randublatung dan Jati,
yang secara geografis didominasi oleh hutan jati, tantangan pendidikan bukan
hanya soal fasilitas, melainkan akses informasi. Mahasiswa Tarbiyah
mengimplementasikan ilmu Manajemen Pendidikan untuk membantu tata kelola
administrasi sekolah-sekolah rakyat.
Revolusi senyap ini terjadi saat
seorang mahasiswa membantu kepala madrasah menyusun kurikulum lokal yang
relevan dengan potensi desa. Mereka melakukan digitalisasi data sederhana yang
selama ini tercecer di tumpukan kertas. Ini adalah bentuk pemberdayaan jangka
panjang yang akan tetap hidup bahkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Membentengi Keluarga di Era Disrupsi
Bergerak ke arah Kedungtuban
dan Sambong, fokus beralih pada pendidikan keluarga. Melalui forum-forum
pengajian dan perkumpulan ibu-ibu, mahasiswa Tarbiyah membuka wawasan mengenai
pentingnya pendampingan anak dalam penggunaan gadget.
Implementasi mata kuliah Etika Islam
dan Parenting di sini menjadi krusial. Mereka memberikan pemahaman bahwa
pendidikan karakter pertama dan utama ada di rumah. Di sinilah letak revolusi
tersebut, mengubah pola pikir orang tua tentang cara mendidik anak di era
digital tanpa harus kehilangan identitas sebagai masyarakat desa yang religius.
Sebuah Warisan yang Tak Lekang
Pada akhirnya, perjalanan dari
kampus menuju pelosok Cepu Raya bagi mahasiswa Tarbiyah adalah perjalanan
membuktikan bahwa gelar "Sarjana Pendidikan" bukan sekadar tiket
untuk mencari kerja, melainkan mandat untuk memperbaiki peradaban.
